by

Baraja – Surau Tuo Taram Dan Syech Ibrahim Mufti

-CULTURE, NATIONAL, NEWS-1,065 views

Surau Taram terletak  ± 5 km dari kota Payakumbuh tepatnya di Jorong Cubadak, Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh KotaSumatera Barat. Surau ini didirikan pada awal abad ke-17 oleh Syech Ibrahim Mufti seorang pendatang yang berasal dari negeri Irak di Timur Tengah semasa kerajaan Samudera Pasai.

Syekh Ibrahim Mufti merupakan murid Syekh Ahmad Qusasi di Madinah dan satu angkatan dengan Abdurrauf as-Singkili. Setiba di Taram pada abad ke-17, Ibrahim Mufti mendirikan surau untuk mendukung kegiatan dakwahnya dalam penyebaran Islam.
02190321

ejak didirikan, Surau Taram tercatat telah mengalami sejumlah perbaikan terakhir yaitu dari tahun 1994 - 1996. Bangunan surau yang berdiri saat ini merupakan hasil pemugaran dengan tetap mempertahankan bentuk arsitektur asli. Dalam sejarahnya, Surau Taram pernah menjadi sentral pendidikan Islam di Lima Puluh Kota. Selain itu, surau ini dahulunya digunakan sebagai tempat ibadah suluk. Saat ini, Surau Taram digunakan untuk aktivitas ibadah terbatas seiring dengan kehadiran masjid, yakni Masjid Baitul Qiramah di sebelah barat surau.

Syekh Ibrahim Mufti dipandang oleh penduduk setempat sebagai orang yang memiliki karamah sehingga beliau dijuluki keramat. Makamnya terdapat di kompleks surau dan menjadi tujuan ziarah, terutama tanggal 27 Rajab. Penziarah datang dari berbagai daerah di Minangkabau baik dari pengikut Tarekat Naqsyabandiyah maupun Tarekat Syattariyah. Selain makam Syekh Ibrahim Mufti, terdapat makam Syekh Muhammad Nurdin di kompleks surau.
03190321
Konon beliau mempunyai banyak kesaktian diantaranya, pernah suatu kali beliau sedang bercukur, mendadak beliau minta izin untuk meninggalkan tukang cukurnya sebentar, katanya beliau harus pergi ke Mekkah untuk menyelamatkan kota Mekkah yang sedang terbakar. Beliau menghilang dan beberapa saat kemudian muncul kembali. Beberapa bulan kemudian ada orang yang pulang dari Mekkah, mengatakan bahwa sewaktu beliau menunaikan ibadah haji, kota Mekkah kebakaran, tetapi musibah itu dapat diatasi atas bantuan seseorang yang hanya memiliki rambut pada sebelah bagian kepalanya. Dari peristiwa itu masyarakat tahu akan kesaktian Syech Ibrahim Mufti yang kemudian dikenal dengan Syech yang Bercukur Sebelah Konon kabarnya ikan yang sekarang berkembang biak di Taram, berasal dari ikan yang dilepaskan kembali oleh Syech Ibrahim Mufti setelah setengah bagian ikan tersebut dibakar atau dimasak oleh salah seorang muridnya.
04190321

Pada tahun 1996 keturunan atau keluarga Syech Ibrahim Mufti yang berada di Irak berziarah di Taram dan menceritakan sebuah kejadian pada masa lalu dimana salah seorang cucunya menemui beliau semasa hidupnya dan sewaktu kembali ke Irak, sesampai di Laut Tengah, kapalnya kandas dan miring akan tenggelam. Syech Ibrahim Mufti yang berada jauh di Taram mengetahuinya dan segera menceburkan diri ke tabek gadang (kolam) disamping Surau Tuo yang dijadikan beliau sebagai media untuk menuju Laut Tengah. Beliau berhasil menyelamatkan kapal tersebut dan mengangkatnya sehingga bisa berlayar kembali dengan selamat dan setelah itu beliau muncul kembali diTaram. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan dan dimana meninggalnya Syech Ibrahim Mufti karena beliau sering berkelana. Karena sudah lama tidak pulang ke Taram, murid-muridnya berusaha mencari, bahkan anaknya yang bernama Syech Muhammad Jamil, meninggal dalam pencarian itu.

Sampai akhirnya pada suatu malam salah seorang muridnya bermimpi bertemu beliau dan dalam mimpi itu dikatakan bahwa beliau sudah meninggal dan kalau ingin melihat kuburannya, lihatlah pada malam tanggal 27 Rajab. Setelah mengikuti petunjuk gurunya, maka pada malam itu terlihatlah cahaya muncul dari bumi dan menembus langit, berasal dari tempat makam beliau sekarang ini, yaitu disamping Surau Tuo tempat beliau mengajar murid-muridnya yang sampai saat ini masih berdiri dengan gagah. Pemeliharaan Surau Tuo dan Makam Keramat Taram ini menjadi tanggung jawab 7 Pasukuan didaerah itu, yaitu Sumpadang, Simabur, Pitopang, Melayu, Piliang Laweh, Piliang Gadang dan Bodi, yang bergiliran setiap 3 tahun dengan menjadi Imam, Kotik dan Bilal.(Wahyu/GMP)
05190321

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru