Tambang Batu Bara Ombilin adalah bekas tambang batu bara di Kota Sawahlunto, tepatnya di lembah sempit di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Barat, Indonesia. Letaknya sekitar 70 kilometer dari timur laut Kota Padang. Tambang ini dikenal sebagai situs tambang batu bara tertua di Asia Tenggara dan satu-satunya tambang batu bara bawah tanah di Indonesia. Tambang ini dimiliki oleh PT Bukit Asam Tbk.
Pada 6 Juli 2019, Situs Tambang Batu Bara Ombilin secara resmi dikukuhkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa "UNESCO".
![Willem_Hendrik_de_Greve 0208062021](https://gajahmaharamphotography.co.id/wp-content/uploads/2021/06/Willem_Hendrik_de_Greve.jpg)
Willem Hendrik de Greve lahir di Franeker, Belanda pada 15 April 1840. Ia lebih akrab dipanggil "De Greve", yang sebenarnya merupakan nama keluarga dari ayahnya, Mr. F. Greve. Pada saat menginjak usia 19 tahun pada tahun 1859, ia telah meraih gelar insinyur pertambangan dari Akademi Delft, setelah menempuh pendidikan sejak tahun 1855. Setelah itu, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di Hindia Belanda. Pada 14 Desember 1861, ia ditunjuk oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menangani berbagai penelitian tentang bahan tambang, sesuai dengan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Ludolph Anne Jan Wilt Sloet van de Beele.
Pada bulan Agustus 1862, De Greve bersama kepala pertambangan Ir. C. De Groot van Embden mulai melakukan penyelidikan dan pemetaan berbagai jenis kendungan mineral di Buitenzorg (sekarang Bogor, Jawa Barat). Kemudian pada tahun 1864, ia ditempatkan di pulau Bangka, dan berhasil mendorong perkembangan eksploitasi timah di daerah tersebut. Selanjutnya pada 26 Mei 1867, ia ditugaskan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu, Pieter Mijer untuk melakukan penelitian terhadap kandungan mineral di pedalaman Minangkabau yang juga telah diteliti sebelumnya oleh De Groot pada tahun 1858. Pada tahun 1870 De Greve melaporkan hasil penelitiannya kepada pemerintah Hindia Belanda di Batavia (sekarang Jakarta) dan mempublikasikannya dalam bentuk buku bersama dengan W.A. Henny pada tahun 1871, setelah itu ia kembali melakukan penelitian di tempat yang sama pada tahun 1872. Namun dalam penelitian keduanya itu, ia terseret arus Batang Kuantan (salah satu sungai di Sawahlunto) hingga tewas pada 22 Oktober1872. Ia lalu dimakamkan di Durian Gadang, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
![tambang 1920](https://gajahmaharamphotography.co.id/wp-content/uploads/2021/06/tambang-1920-768x418.png)
Penelitian De Greve pada tahun 1867 di pedalaman Minangkabau yang dikenal sebagai Dataran Tinggi Padang oleh Belanda telah membawa berbagai dampak, baik bagi pemerintah Hindia Belanda maupun bagi perkembangan ekonomi di Sumatera Barat waktu itu. Sarana dan prasarana seperti jalan, gedung, pelabuhan, dan lain-lain mulai dibangun, salah satunya jalur kereta api Padang–Sawahlunto yang mulai dibangun pada tahun 1887 dan selesai pada tahun 1894, kemudian dibangun juga pelabuhan di Padang dengan nama Emmahaven pada tahun 1888 sampai 1893 yang kini dikenal sebagai Pelabuhan Teluk Bayur.
Sebagai penghormatan terhadap ilmuan yang telah menemukan batubara di Sawahlunto, Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu menamakan suatu taman di Padang dengan nama "Taman De Greve", yang terletak di dekat Kantor Javasche Bank (Bank Indonesia lama). Di sekitarnya juga dibangun monumen bernama "Monumen De Greve", tetapi monumen tersebut tidak lagi dapat ditemukan akibat dari kebijakan pembangunan di Padang pada masa kemerdekaan. Selain itu, salah satu dermaga di tepian Batang Arau juga dinamakan "De Grevekade" (bermaksud Dermaga De Greve).(Wahyu/GMP)
Comment