by

Baraja – Makam Angku Boyok Di Puncak Gobah Aripan

-NATIONAL, NEWS-390 views

Jorong Pintu Rayo Kenagarian Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak adalah salah satu daerah di Kabupaten Solok yang memiliki destinasi wisata yang cukup menarik perhatian wisatawan, salah satunya wisata religi. Selain ziarah makam tokoh-tokoh agama, wisatawan juga disuguhi akan keindahan danau singkarak dari Puncak Gobah.

Makam tokoh agama di puncak gobah merupakan peninggalan sejarah yang diperkirakan semenjak abad ke-17 yang masyarakat setempat menyebutnya “tampek”  yaitu sebuah makam seorang ulama pada zaman dahulu yang di anggap memiliki kelebihan dan di anggap keramat. Tokoh ulama yang bermakam ditempat ini  masyarakat menyebutnya dengan nama Angku Boyok suku Sumpadang, dahulunya beliau tinggal disuatu daerah antara Durian Bungkuak dengan Ujuang Tanjuang dan konon di tempat beliau tinggal tersebut dahulunya memiliki sebuah surau yang saat sekarang tidak dapat lagi dijumpai dan masyarakat menyebutnya surau Angku Boyok.
02020321

Setiap pertengahan bulan Rajab makam Angku Boyok selalu di datangi oleh peziarah yang pada umumnya berasal dari Ulakan Pariaman. Rombongan yang datang bertujuan untuk melakukan ziarah dan bertahlil di makam Angku Boyok. Dahulunya Angku Boyok merupakan seorang murid dari Syech Burhanudin seorang ulama yang berpengaruh di Minangkabau sekaligus ulama yang menyebarkan islam dikerajaan Pagaruyung, selain itu Ia juga dikenal sebagai ulama Sufi pengamal Mursyid Tarekat Sathariyah di Minangkabau.

Menurut sejarah yang diterima oleh masyarakat Nagari Aripan awalnya makam ini merupakan sebuah lobang sedalam 12 anak tangga  (jenjang) yang di dahulunya digunakan oleh Angku Boyok sebagai tempa berzikir atau berkhilawah (bertarak). Suatu ketika beliau hendak berkhilawah di kawasan Gobah dan sebelum prosesi berkhilawah dilakukan, beliau mengikat jarinya dengan sehelai benang dan ujung benang yang satunya lagi di ikatkan pada sebatang sikaduduak (sejenis pohon kecil yang tumbuh di gurun). Setelah itu beliau duduk di dalam lubang untuk melakukan zikir dengan menggerakan jari sehingga membuat benang yang terikat tersebut terus bergerak selama prosesi berzikir.

Sebelum Angku Boyok masuk kedalam lubang tersebut, beliau meninggalkan pesan kepada anak cucu  bahwa setiap Tujuh hari sekali dimantakan untuk melihat lobang tempat beliau berzikir dan apa bila pada hari ketujuh benang tidak bergerak berarti beliau sudah tidak ada lagi.
03020321
Sesuai amanat dan pesan yang beliau tinggalkan, maka anak cucu angku Boyok setiap hari ke tujuh selalu mendatangi lobang tempat berkhilawah tersebut, namun pada saat itu benang tersebut masih bergerak,setelah berjalan tujuh hari untuk minggu kedua,benang yang di kaitkan ke atas permukaan masih bergerak. Ketika pada minggu ketiganya anak cucu Angku Boyok mendapati benang tidak bergerak dan sesuai pesan beliau berarti Angku Boyok sudah tidak ada lagi.dengan rasa penasaran maka diperiksalah oleh anak cucu Angku Boyok kedalam lubang tersebut, namun tak satupun ditemukan tanda – tanda angku boyok berada dalam lubang tersebut, maka keluarga memutuskan angku boyok sudah meninggal dunia.Maka untuk mengenang Angku Boyok maka setiap bulan Rajab makam beliau selalu di kunjungi oleh pengamal Mursyid Tarekat Sathariyah yang pada umumnya datang dari ulakan Pariaman.(Wahyu/GMP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru