by

Baraja – Emansipasi Wanita Melalui Kisah Siti Nurbaya Buah Karya Marah Rusli

-NATIONAL, NEWS-299 views

Dalam sejarah sastra Indonesia, Marah Rusli tercatat sebagai pengarang roman yang pertama dan diberi gelar oleh Hans Bague Jassin yang merupakan seorang pengarang atau penyunting dan kritikus ternama di Indonesia dengan memberi julukan kepada Marah Rusli sebagai Bapak Roman Modern Indonesia. Sebelum muncul bentuk roman di Indonesia, bentuk prosa yang biasanya digunakan adalah hikayat.

Marah Rusli bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan Pagaruyung dengan gelar Sultan Pangeran, sedangkan ibunya berdarah Jawa, keturunan Sentot Alibasyah, seorang panglima perang Pangeran Diponegoro yang ditugaskan oleh Belanda ke Minangkabau untuk menghadapi perang Paderi, namun kemudian ia membelot dengan membantu perjuangan kolonialis Belanda.
02010321

Marah Rusli sebenarnya merupakan seorang dokter hewan dan ia lebih memilih menjadi penyair ketimbang menjalankan profesinya sebagai seorang dokter hewan. Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak ia masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita - cerita dari tukang kaba, tukang dongeng di Sumatera Barat yang berkeliling kampung menjual ceritanya, selain itu Marah Rusli juga sering membaca buku – buku tentang kesastraan.

Buku - buku bacaannya banyak berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam salah satu karyanya yaitu, Sitti Nurbaya.

Dalam kisah Sitti Nurbaya, Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya. Dalam alur cerita telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita.

Dalam kisah Sitti Nurbaya yang diterbitkan oleh penerbit nasional negeri Hindia Belanda, pada tahun 1922. Ceritanya lebih dipengaruhi oleh perselisihan antara kebudayaan Minangkabau  dan penjajah Belanda yang sudah menguasai Indonesia sejak abad ke-17. Pengaruh lain barangkali pengalaman buruk Rusli dengan keluarganya, setelah memilih perempuan Sunda untuk menjadi istrinya, keluarganya menyuruh Rusli kembali ke Padang dan menikah dengan perempuan Minang yang dipilihkan.

Sitti Nurbaya menceritakan cinta remaja antara Samsul Bahri dan Sitti Nurbaya, yang hendak menjalin cinta tetapi terpisah ketika Samsul Bahri terpaksa pergi ke Batavia untuk melanjutkan pendidikan. Belum lama kemudian, Nurbaya menawarkan diri untuk menikah dengan Datuk Maringgih (yang kaya tetapi kasar) sebagai cara untuk ayahnya hidup bebas dari utang, Sitti Nurbaya kemudian dibunuh oleh Datuk Maringgih. Pada akhir cerita Samsul Bahri yang menjadi anggota tentara kolonial Belanda, membunuh Datuak Maringgih dalam suatu revolusi lalu meninggal akibat lukanya.

Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak - haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya. Ceritanya menggugah dan meninggalkan kesan yang mendalam kepada pembacanya. Kesan itulah yang terus melekat hingga sampai saat sekarang. Setelah hampir satu abad novel itu dilahirkan, Sitti Nurbaya tetap diingat dan dibicarakan dari waktu ke waktu.

Selain Sitti Nurbaya, Marah Rusli juga menulis beberapa roman lainnya seperti roman Lasmi, roman Anak dan Kamanakan, Roman memang Jodoh dan lainnya. Akan tetapi, Sitti Nurbaya itulah yang terbaik. Roman itu mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.

Marah Rusli meninggal di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 17 Januari 1968 dalam usia 78 Tahun, meninggalkan satu orang istri kelahiran Sunda dengan tiga orang anak diantaranya dua laki – laki dan satu orang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.(Wahyu/GMP)
03010321

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru