by

Putih Telur Menjadi Bahan Penting Dalam Proses Berdirinya Masjid Raya Sultan Riau

Masjid Raya Sultan Riau merupakan salah satu masjid tua yang memiliki keunikan karena salah satu campuran bahan bangunan yang digunakan adalah putih telur. Masjid yang terdapat Pulau Penyengat tersebut terdapat di sebuah pulau kecil berjarak sekitar 2 km dengan luas pulau 240 hektar dan berada di seberang Kota Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Pada abad ke-18 pulau ini merupakan lokasi pemerintahan Kesultanan Johor  Riau dengan istana perpaduan arsitektur melayu, india, Arab dan Turki. Belum dapat dipastikan asal mula nama 'penyengat' namun menurut cerita masyarakat sekitar dahulu pulau ini dijadikan pelabuhan persinggahan pelaut untuk mengambil air tawar untuk bekal pelayaran. Suatu waktu seorang saudagar yang hendak mengambil air tiba-tiba disengat ribuan lebah yang tinggal di pepohonan pulau ini dari situlah nama penyengat berasal.

Masjid dengan ketebalan dinding mencapai 50 cm ini merupakan satu - satunya peninggalan Kerajaan Riau Lingga yang masih utuh. Bahkan, hingga kini masjid ini masih digunakan oleh warga untuk beribadah. Luas keseluruhan kompleks masjid ini sekitar 54,4 x 32,2 meter. Bangunan induknya berukuran 29,3 x 19,5 meter dan ditopang oleh empat tiang. Lantai bangunannya tersusun dari batu bata yang terbuat dari tanah liat. Di halaman masjid terdapat dua buah rumah sotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat menyelenggarakan musyawarah. Selain itu di halaman masjid juga terdapat dua balai tempat menaruh makanan ketika ada kenduri dan untuk berbuka puasa ketika bulan Ramadhan tiba. Selain itu Masjid Sultan Riau memiliki tiga belas kubah dan empat menara masjid berujung runcing setinggi 18,9 meter yang dulu digunakan oleh muadzin untuk mengumandangkan panggilan salat membuat bangunan itu tampak megah seperti istana - istana raja di India. Susunan kubahnya bervariasi mengelompok dengan jumlah tiga dan empat kubah. Ketika kubah dan menara tersebut dijumlahkan, ia menunjuk pada angka 17. Hal ini dapat diartikan sebagai jumlah raka’at dalam shalat yang wajib dilakukan oleh setiap umat Islam.

masjid rao

Masjid ini mulai dibangun sekitar tahun 1761 – 1812 yang pada awalnya masjid ini hanya berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu bata yang hanya dilengkapi dengan sebuah menara setinggi lebih kurang 6 meter. Namun seiring berjalannya waktu, masjid ini tidak lagi mampu menampung jumlah anggota jama’ah yang terus bertambah sehingga Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman, Sultan Kerajaan Riau - Linggga pada 1831 - 1844 berinisiatif untuk memperbaiki dan memperbesar masjid tersebut. Untuk membuat sebuah masjid yang besar, Sultan Abdurrahman berseru kepada seluruh rakyatnya untuk beramal dan bergotong-royong di jalan Allah. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada tanggal 1 Syawal 1248 Hijriah (1832 M) atau bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Panggilan tersebut ternyata telah menggerakkan hati segenap warga untuk berkontribusi pada pembangunan masjid tersebut.

Orang - orang dari seluruh pelosok teluk, ceruk dan pulau di kawasan Riau Lingga berdatangan ke Pulau Penyengat untuk mengantarkan bahan bangunan, makanan dan tenaga, sebagai tanda cinta yang tulus kepada Sang Pencipta dan Sang Sultan. Bahkan, kaum perempuan pun ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut sehingga proses pembangunannya selesai dalam waktu yang cepat. Terbukti, fondasi setinggi sekitar 3 meter dapat selesai hanya dalam waktu 3 minggu.

Konon, karena banyaknya bahan makanan yang disumbangkan penduduk, seperti beras, sayur, dan telur, para pekerja sampai merasa bosan makan telur sehingga yang dimakan hanya kuning telurnya saja. Karena menyayangkan banyaknya putih telur yang terbuang, sang arsitek memanfaatkannya sebagai bahan bangunan. Sisa - sisa putih telur itu kemudian digunakan sebagai bahan perekat, dicampur dengan pasir dan kapur, sehingga membuat bangunan masjid dapat berdiri kokoh hingga saat ini.(Wahyu/GMP)

masjid rao

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru