by

Pesona Gunung Batur Kintamani

Pulau Dewata menjadi salah satu destinati wisata Indonesia favorit wisatawan lokal maupun mancanegara. Kepopuleran pulau ini datang dari beberapa objek wisata yang sering kali membuat penasaran wisatawan yang belum pernah mengunjunginya maupun yang berkunjung lagi.  Salah satu objek wisata popular di Bali yakni Gunung Batur. 

Gunung Batur terletak di Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali. Akses menuju Gunung Batur dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua dengan melewati perkebunan Jeruk Kintamani. Apabila Anda datang dari Bandara Ngurah Rai untuk sampai ke Gunung Batur dapat melalui Jalan Nusantara dengan Perjalanan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam.

Gunung Batur merupakan gunung tertinggi kedua di Bali setelah Gunung Agung dengan ketinggian 1717 mdpl. Termasuk kedalam salah satu gunung api yang aktif, letusan pertama Gunung Batur terjadi pada tahun 1804 dan terakhir pada tahun 2000. Pura Ulun Danu Batur dan Desa Batur terkena dampak akan letusan hebat Gunung Batur pada tahun 1926. Sampai saat ini Gunung Batur tercatat telah meletus sebanyak 26 kali.

Kawasan Gunung Batur terkenal sebagai objek wisata andalan Kabupaten Bangli. Konon menurut cerita dalam Lontar Susana Bali, Gunung Batur merupakan puncak dari Gunung Mahameru yang dipindahkan Batara Pasupati untuk dijadikan Sthana Betari Danuh (istana Dewi Danu). Pada waktu tertentu, seluruh umat Hindu dari berbagai daerah di Bali datang ke Batur menghaturkan Suwinih untuk mengusir bencana hama yang menimpa ladang mereka. Dengan menghantarkan suminih ini maka kawasan gunung Batur menjadi daerah yang subur.

Daerah yang dapat ditonjolkan sebagai objek wisata adalah kawahkaldera dan danau. Terdapat aliran air dalam tanah yang mengalirkan air Danau Batur, yang muncul menjadi mata air di beberapa tempat di Bali dan dianggap sebagai "Tirta Suci". Wisata budaya yang terdapat di kawasan Gunung Batur adalah Trunyan. Meskipun seluruh penduduk Trunyan beragama Hindu seperti umumnya masyarakat Bali, mereka menyatakan bahwa Hindu Trunyan merupakan Hindu asli warisan kerajaan Majapahit. Di sebelah utara Trunyan terdapat kuban, sebuah tempat makam desa, namun jenazah tidak dikuburkan atau dibakar, melainkan diletakkan di bawah pohon setelah dilakukan upacara kematian yang rumit. Tempat pemakamanan ini dipenuhi oleh tulang-tulang dan bisa jadi kita menemukan mayat yang masih baru. (Wahyu/GMP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru