by

Pengelola “Kampung Wisata Payo” Mengikuti Bimtek dari Kemenparekraf dan FPP- UNP

Pada awal Agustus 2020 Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang melakukan pendampingan terhadap “Kampung Wisata Payo”. Pendampingan tersebut merupakan kerjasama antara Kemenparekraf, Kemendes dan Perguruan Tinggi dengan program pemberdayaan masyarakat desa wisata berbasis pendampingan.

Program tersebut merupakan satu-satunya cara yang efektif untuk dapat menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, maju dan mandiri. Pada tahun 2019 Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang telah mendatangkan ±800 orang mahasiswa/wi untuk pengabdian di Payo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuak Sikarah, Kota Solok. Semua terlaksana karena adanya Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Kota Solok dengan Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang.

Salah satu dari 21 (dua puluh satu) desa/kampung wisata yang terpilih di Indonesia untuk program pemberdayaan masyarakat desa wisata yaitu ‘Kampung Wisata Payo”. Hal yang mendukungnya adalah keberadaan sanggar tari, randai, pencak silat, saluang, dan lainya. Atraksi wisata unggulannya adalah Payo Nature, Batu Patah Payo dan Puncak Bidadari. Potensi wisata pendukungnya seperti Air Terjun Payo, Batu Tikung, Agrowisata kopi dan kuliner batang pisang.

Untuk itu, perwakilan dari beberapa orang pengelola Kampung Wisata Payo mengikuti Bimbingan Teknis Pendampingan Desa Wisata Regional 1A (Sumatera) yang dilaksanakan oleh Kemenparekraf yang bekerjasama dengan Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang, bertempat di Grand Inna Muara Padang, pada tanggal 27 Agustus 2020.

Bimbingan Teknis ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata Propinsi Sumatera Barat, yang dhadiri oleh perwakilan Kemenparekraf, Wakil Rektor IV UNP, Dekan FPP-UNP, Politeknik Negeri Padang, Kepala Dinas Pariwisata Kota Solok, Dosen-dosen dari FPP-UNP. Dalam sambutannya Kepala Dinas Propinsi Sumatera Barat berpesan agar para pengelola kampung wisata bisa menjaga Sapta Pesona dan viralkan tempat wisatanya dengan cara selfi serta upload dimedia sosial. Sambutan dari Perwakilan Kemenparekraf mengharapkan pengelola kampung wisata bisa menerapkan CHSE (Clean, Healty, Safety, Environtment) dan dimohonkan selama bimtek, tetap melaksanakan protokol covid-19.

Bimtek ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi pengelola kampung wisata dan agar masyarakat payo termotivasi dalam pengembangan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraannya.(Mellya/GMP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru