by

Lareh Singkarak

-CULTURE, NEWS-294 views

Lareh Singkarak merupakan bentuk pemerintahan yang ada pada zaman Hindia Belanda setelah hilangnya pemerintahan Regent pada abad XIX di Minangkabau. Lareh Singkarak sesuai dengan namanya wilayah ini berada di sekitaran Danau Singkarak X Koto yang mana daerah ini ditunjuk untuk mengatur dan mengkoordinir beberapa Nagari di sekitarannya yang mana daerah tersebut diantaranya: Nagari Singkarak, Nagari Tikalak, Nagari Kacang, Nagari Paninggahan, Nagari Saniang Baka, Nagari Koto Sani dan Nagari Sumani.

lareh singkarak

Lareh di kepalai oleh seorang Tuanku Lareh yang ditunjuk dan diangkat oleh Belanda, ditunjuk dari seorang Penghulu kepala pada sebuah negeri yang bergelar Datuak. Tak ubahnya dengan nagari lain yang ada di Minangkabau, di Singkarak pun di tempatkan seorang Tuanku Lareh sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Lareh Singkarak sudah ada empat kali pengangkatan dan yang tersebut-sebut namanya adalah Lareh yang ke -IV yakni Tuanku Lareh Badoe Intan gelar Datuak Mangkuto Sati di akhir tahun 1800-an sampai awal 1900-an. Tidak beberapa lama Tuanku Badoe Intan menjabat Tuanku Lareh, sistim Lareh ini pun dicabut dan di ganti dengan DEMANG (damang) dan Tuanku Badoe Intan naik pula menjadi Tuanku Damang atau lebih populernya Angku Damang I di Singkarak bahkan di Minangkabau yang mana kekusaannya lebih besar dari pada Lareh.

lareh singkarak

Salah satu jasa yang ditinggalkan Tuanku Lareh atau Angku Damang Badoe Intan buat negerinya adalah memprakarsai pelebaran dan pendalaman  pintu air danau Singkarak di Batang Ombilin karena sebelum pintu air tersebut di perlebar Nagari singkarak sering kebanjiran saat meluapnya air danau singkarak.
Setelah Angku Damang I Badoe Intan ini maka beliau di gantikan oleh keponakannya Yang bernama Loedin Datuak Mangkuto Sati Angkoe Damang II tapi sayangnya tak banyak juga cerita tentang Angkoe Damang II Loedin Datuak Mangkuto Sati ini yang tertinggal hanya kematian beliau yang memilukan rakyat, beliau mati di sengat listrik oleh Jepang sebagai hukuman atas ketidak kooperatif beliau pada pemerintahan pendudukan Jepang. Karena beliau berada pada dua masa pemerintahan penjajah yakni pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan masa pendudukan Jepang. Beliau dianggap pembelot oleh Jepang dan tidak mau di bawa kompromi yang nota bene benci pada Jepang.

Dalam bahas daerah Minangkabau, kata “lareh” berarti hukum, yaitu hukum adat. Jadi lareh Koto Piliang berarti Hukum Adat Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago berarti Hukum Adat Bodi Caniago. Disamping itu kata lareh berarti “daerah” seperti Lareh Nan Panjang.

Menurut kepercayaan orang Minangkabau yang berpedoman kepada Tambo Alam Minangkabau, pertama sekali didirikan Lareh Nan Panjang yang berpusat di Pariangan Padang Panjang sebagai nagari tertua di Minangkabau dengan pucuk pimpinan pada waktu itu Dt. Suri Dirajo. Nagari yang termasuk daerah Lareh Nan Panjang adalah : Guguak Sikaladi, Pariangan, Padang Panjang, Sialahan, Simabua, Galogandang, Baturawan, Balimbiang. Daerah ini dikatakan juga Nan Sahiliran Batang Bangkaweh, hinggo Guguak Hilia, Hinggo Bukik Tumansu Mudiak.

Semasa penjajahan Belanda daerah Minangkabau dijadikan Kelarasan yang dikepalai oleh seorang Lareh atau Regent. Kelarasan bikinan penjajahan Belanda ini merupakan gabungan beberapa Nagari dan tujuannya lebih mempermudah pengontrolan oleh penjajah. Yang menjadi laras atau regent ditunjuk oleh Belanda. Setelah penjajahan Belanda berakhir, maka kelarasan bikinan Belanda ini juga lenyap tidak sesuai dengan susunan pemerintahan secara adat yang berlaku di Minangkabau.

Yang termasuk lareh Koto Piliang dengan pengertian yang memakai sistem adat Koto Piliang disebut Langgam Nan Tujuah. Langgam Nan Tujuh itu adalah sebagai berikut:

1. Sungai Tarab Salapan Batu, disebut Pamuncak Koto Piliang (sebagai pimpinan Langgam Nan Tujuah)

2. Simawang,Bukik Kanduang, disebut Perdamaian Koto Piliang ( tugasnya untuk menjadi pendamai dari nagari - nagari yang bersengketa )

3. Sungai Jambu, Labuatan, disebut Pasak Kungkuang Koto Piliang ( tugas utamanya mengawasi keamanan dalam nagari )

4. Batipuah Sepuluh Koto disebut Harimau Campo Koto Piliang ( sebagai panglima perang )

5. Singkarak,Saniang Baka, disebut Camin Taruih Koto Piliang ( bertugas sebagai badan penyelidik ).

6. Tanjung Balik, Sulik Aia, disebut Cumati Koto Piliang ( bertugas sebagai pelaksana hukum )

7. Silungkang, Padang Sibusuak, disebut Gajah Tongga Koto Piliang ( sebagai kurir dan menjaga perbentengan bagian selatan Minangkabau )

Disamping Langgam Nan Tujuh, nagari-nagari lain yang termasuk Lareh Koto Piliang adalah Pagaruyuang, Saruaso, Atar, Padang Gantiang, Taluak Tigo Jangko, Pangian, Buo, Bukik Kanduang, Batua, Talang Tangah, Gurun, Ampalu, Guguak, Padang Laweh, Koto Hilalang, Sumaniak, Sungai Patai, Minangkabau, Simpuruik, Sijangek. (Wahyu/GMP)

lareh singkarak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru