by

Gulo Anau (Gula Aren) Di Ketinggian Puncak Pato Lintau

Puncak Pato Lintau merupakan suatu Jorong kecil yang terletak di Kenagarian Batu Bulek, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Kawasan tersebut berada tepat dilereng gunung sago dengan memiliki udara yang cukup dingin, ditempat ini menjadi salah satu tempat bersejarah bagi masyarakat Sumatera Barat yang dulunya sebagai tempat lahirnya falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabbullah atau lebih di kenal dengan deklarasi Sumpah Sati Bukit Marapalam. Sebagai mana lokasi Puncak Pato ini menyimpan potensi wisata nan indah dengan pemandangan yang luar biasa. Selain kaya akan pesona alamnya wilayah ini menjadi salah satu tempat penghasil gula merah atau gula aren yang cukup berkualitas baik di Sumatera Barat.

Di Puncak Pato masyarakatnya pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan sebagai pembuat gula aren. Jika kita berkunjung ke kawasan Puncak Pato akan di jumpai ribuan pohon tebu dan pohon enau yang tumbuh subur di setiap lahan pertanian penduduk.

Pohon aren memiliki ketinggian mencapai 10 Meter ini mampu menghasilkan air nira dengan jumlah yang cukup banyak. Pohon Aren disadap dua kali sehari yakni pada pagi dan sore hari. Nira hasil sadapan yang diambil pada pagi hari hasilnya lebih banyak dari pada nira hasil panen sore hari. Jika satu pohon aren misalnya dalam satu hari menghasilkan sepuluh liter nira, maka panen pagi akan berisi sekitar tujuh liter, sedangkan panen sore akan berisi tiga liter nira. Hal ini terjadi karena dalam cuaca dingin di tengah malam sampai subuh air nira mengalir lebih deras. Sifat pohon aren ini membuat aren yang ditanam di lereng gunung sago dengan dataran cukup tinggi akan menghasilkan nira yang lebih banyak dari pada yang dihasilkan oleh pohon aren yang ditanam di dataran rendah. Aren dataran rendah rata - rata menghasilkan nira dua belas liter perhari, sedangkan yang di dataran tinggi bisa sekitar dua puluh liter per hari. dalam hal rendemen atau presentase kandungan penting terlarut (kadar gula) nira dataran rendah lebih unggul. Selain ketinggian  curah hujan juga mempengaruhi rendemen. Dapat ditebak di musim penghujan rendemen nira akan lebih rendah dibanding rendemen nira aren di musim kemarau. Saat kemarau, satu kilogram gula aren berasal dari 5-6 liter nira. Di musim hujan maka angkanya menjadi 7-8 liter nira.

gulo anau

Nira aren juga mudah menjadi masam. Karena zat gula yang terkandung mudah terfermentasi oleh bakteri. Jika nira sudah masam maka gula yang dihasilkan nantinya juga akan berasa asam. Air nira yang sudah dibawa ke tempat pemasakan atau tungku akan langsung dimasak. Jika jumlah nira sudah cukup satu kancah atau wadah pemasakan maka nira akan dimasak hingga menjadi gula. Lama pemasakan sekitar 4-5 jam, tergantung bentuk tungku dan bentuk wadah masak serta besarnya api. Jika jumlah nira belum cukup satu wajan, maka nira hasil sadapan sore hari dipanaskan hingga mendidih dan Nira yang sudah dipanaskan ini akan dimasak dengan nira hasil sadapan esok paginya.

Nira aren dimasak dengan api yang sedang saja besarnya sambil sesekali diaduk sambil membuang buih yang keluar saat nira sudah mendidih. Membuang buih ini akan membuat gula bisa keras saat dicetak nantinya. Selain itu proses pembuangan buih akan dapat membuat gula warnanya tidak menghitam. Setelah gula aren terasa kental di dalam kuali maka kita akan memasukkannya ke dalam cetakkan yang sudah di bersihkan. Cetakkan untuk gula aren terbuat dari batok kelapa dan potongan bambu yang sudah siap di bersihkan dengan cara di cuci. Selanjutnya gula aren yang sudah membeku dibiarkan sampai dingin di dalam cetakkan tersebut dan setelah betul – betul keras, baru dibungkus dengan plastik atau daun pisang. Jika proses Membungkus gula saat masih hangat akan membuat gula basah dan juga mudah hancur. Gula aren asli saat ini dijual seharga kisaran Rp.15.000/Kg - Rp.20.000/kg. (Wahyu/GMP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru