by

Biennale Jogja 2019 (Equator #5) diikuti 52 Seniman (Indonesia – Asia Tenggara)

Biennale Jogja merupakan biennale internasional yang berfokus pada seni rupa, yang diadakan sejak tahun 1988 dan dilaksanakan dua tahun sekali. Sejak tahun 2011, Biennale Jogja bekerja disekitar Khatulistiwa 23,27 derajat Lintang Utara dan Lintang Selatan. Biennale Jogja ini dibawah organisasi Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY). Yayasan Biennale Yogyakarta menyelenggarakan Biennale Jogja sebagai rangkaian pameran yang berangkat dari satu tema besar, yaitu Equator (Khatulistiwa). Tema equator ini dimulai sejak tahun 2011 – 2021. Biennale Jogja tersebut berdiri pada bulan

Agustus 2010, dan pada tahun 2011 melaksanakan Biennale Jogja XI. 

Dalam pelaksanaan Biennale Jogja selalu bekerja sama dengan satu atau lebih negara atau kawasan, dengan mengundang seniman-seniman dari negara – negara yang berada diwilayah kawasan equator  untuk bekerjasama, berkarya, berpameran, bertemu, dan berdialog dengan seniman – seniman, kelompok –kelompok, organisasi – organisasi seni dan budaya Indonesia di Yogya.

Wilayah – wilayah disekitar kawasan khatulistiwa yang direncanakan akan bekerja sama dengan Biennale Jogja sampai dengan tahun 2021 adalah : India (Biennale Jogja XI  2011), Negara – negara Arab (Biennale Jogja XII 2013), Negara – negara di benua Afrika (Biennale Jogja XIII 2015), Negara – negara di Amerika Latin (Biennale Jogja XIV 2017), Negara – negara di Kepulauan Pasifik dan Australia, termasuk Indonesia sebagai Nusantara (Biennale Jogja XV 2019) dapat disebut sebagai “Biennale Laut” (Ocean Biennale), Negara – negara Asia Tenggara (Biennale Jogja XVI 2021). Biennale Jogja seri Equator (Khatulistiwa) ditutup dengan “Konferensi Khatulistiwa” direncanakan pada tahun 2022.

jogja biennale

Biennale Jogja XV  2019 ini, bekerja sama dengan negara – negara Asia Tenggara dengan  tema “Do we live in the same PLAYGROUND” yang merupakan tawaran dari tiga kurator, diantaranya : Akiq AW (Indonesia), Arham Rahman (Indonesia), dan Penwadee Nophaket Manont (Thailand). Hasil dari kurasi dan pengorganisasian pameran tersebut menghasilkan 33 seniman Indonesia dan 19 seniman Asia Tenggara menjadi bagian dari pameran utama Biennale Jogja 2019.

Pameran ini dilaksanakan mulai pada tanggal 20 Oktober – 30 November 2019, dengan rangkaian pameran yaitu : Taman Budaya Yogyakarta, Jogja National Museum, Jalan Ketandan Kulon 17, Kampung Jogoyudan, Bilik Taiwan, Bilik Hongkong Timor Leste. Persoalan – persoalan yang menjadi karya artistik oleh para seniman mencakup masalah identitas (gender, ras dan agama), narasi – narasi kecil/alternatif , konflik sosial politik, liminalitas, perburuhan, lingkungan, atau yang lebih spesifik, praktik kesenian yang masih sering diabaikan di dalam wacana arus utama.

Playground adalah alegori bagi ruang hidup dan/atau ruang ekspresi kita yang sering kali tampak menyenangkan, tetapi mempunyai berlapis – lapis persoalan dibaliknya. Kita tidak perlu mengurai persoalan – persoalan tersebut tetapi bagaimana cara kita (sebagai seniman, penikmat seni dan semua pihak yang mempunyai kepentingan) bisa merespon terhadap berbagai isu yang ada dihadapan kita. (Mellya/GMP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru