by

“Baraja” Tugu Babiola atau Rabab Pasisia

-CULTURE-261 views

Salah satu kesenian Sumatera Barat yang tak kalah menariknya yaitu Babiola atau lebih dikenal dengan sebutan Rabab Pasisia. Babiola merupakan sebuah kearifan lokal karena pelaku dan alat yang digunakan lahir didaerah Pesisir Selatan dan Rabab Pasisia tidak saja sekedar musik namun banyak pesan yang dapat di sampiakan. Saat ini jika kita memasuki kawasan Kabupaten Pesisir Selatan yaitu di simpang bukit putus kita akan menjumpai sebuah tugu Babiola sebagai lambang kesenian khas daerah tersebut.

Kesenian rabab sebagai salah satu kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau, tersebar dibeberapa daerah dengan wilayah dan komunitas masyarakat yang memiliki jenis dan spesifikasi tertentu. Rabab darek, rabab piaman dan rabab pasisie merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup berkembang dengan wilayah dan didukung oleh masyarakat setempat. Rabab darek tumbuh dan berkembang di daerah darek Minangkabau meliputi luhak nan tigo sedangkan rabab piaman berkembang di daerah pesisir barat Minangkabau, yang meliputi daerah tepian pantai (pesisir) atau juga di sebut dengan rabab pasisia.

Rabab yang terkenal di Minangkabau yakninya rabab pasisia, salah satunya berasal dari kabupaten Pesisir Selatan. Pesisir Selatan sebagai wilayah kebudayaan Minangkabau yang menurut geohistorisnya di klasifikasikan kepada daerah rantau pasisia yang cakupan wilayah tersebut sangat luas dan didaerah inilah berkembangnya kesenian rabab pasisia. Rabab pasisia ditinjau dari aspek fisik pertunjukanya memiliki spesifikasi tersendiri dan ciri khas yang bebeda dengan rabab lainnya. Terutama dari segi bentuk alat yang mirip dengan biola. Hal tersebut secara historis berasal dari pengaruh budaya portugis yang datang ke Indonesia pada abad ke XVI melalui pantai barat Sumatera.

Kegiatan memainkan alat musik gesek ini di Sumatera Barat dinamakan dengan Barabab. Barabab ini juga dikenal sebagai seni tradisinya kaum nelayan di daerah pesisiran. pantai barat Sumatera, khususnya di Pesisir Selatan dan di Kabupaten Padang Pariaman. Diantara kedua daerah tersebut terdapat juga perbedaan dalam penampilan seni rabab ini. Perbedaan kedua jenis seni tradisi rabab di kedua daerah ini terletak pada bentuk alat musik dan nuansa irama yang dihasilkan rebab pada kedua daerah itu. Rabab di Pariaman lebih bernuansa klasik, nadanya terbatas, sedangkan rabab di Pesisir Selatan lebih variatif dan dapat menghasilkan nuansa irama yang lebih beragam, bahkan dapat dikombinasikan dengan alat-alat musik lainnya, seperti gendangchaar, dan juga saluang. Hal inilah yang menyebabkan rabab pasisia lebih banyak digemari dan banyak diminati pendengar, tidak terkecuali para perantau Minangkabau. (Wahyu/GMP)

020321

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru