by

Baraja : “Surau Latiah” Salah Satu Bangunan Ibadah Tertua di Kota Solok

Surau Latiah berdiri pada tahun 1902, yang terletak di Jalan Raya By-Pass, Kelurahan Kampai Tabu Karambia, Kecamatan Lubuak Sikarah, Kota Solok. Surau ini didirikan pada awal abad ke-19 oleh Syekh Sihalahan. Bangunannya menyerupai rumah gadang, rumah adat tradisonal Minangkabau. Sejak didirikan sampai sekarang, konstruksinya tidak banyak mengalami perubahan, kecuali bagian dinding yang telah diberi plester dan material atap yang telah berganti dari ijuk menjadi seng.

Secara history, Keberadaan Surau Latiah berkaitan dengan figur Syekh Sihalahan, seorang ulama Minangkabau yang berdakwah di daerah Solok dan sekitarnya. Ia bernama asli Husin bin Mahmud, sedangkan Sihalahan merujuk pada nama daerah di Tanah Datar, tempat ia dulunya pernah berdakwah sebelum pindah ke Solok. Semasa hidupnya, Syekh Sihalahan pernah belajar di berbagai tempat, terakhir ia berguru kepada Syekh Aminullah, cucu dari Syekh Supayang. Saat berdakwah di Solok, ia mendapat hambatan dari kakaknya sendiri, seorang pemuka adat bergelar Datuak Bandaro dengan jabatan Angku Lareh. Jabatan ini membuat kakaknya cenderung berpihak kepada Belanda.  

Surau Latiah merupakan salah satu bangunan ibadah umat Muslim tertua di Kota Solok. Secara fisik, bentuk bangunan surau menyerupai rumah gadang dengan atap gonjong. Satu-satunya komponen ruang yang mencirikan sebagai tempat peribadatan adalah mihrab di bagian tengah sisi barat.
Ketika berdiri, Surau Latiah awalnya hanya berdinding bambu yang dianyam atau disebut sasak dan beratap ijuk. Setelah Syekh Sihalahan meninggal pada 9 Muharram 1336H (26 Oktober 1917), dinding dinding bangunan diberi plester dengan semen. Bagian lantai dan loteng telah diganti dengan material baru pada 1997 oleh BP3 Batusangkar. Pada bagian tiang dalam masjid (asli) sudah dilapisi oleh ahli waris dengan papan guna perkuatan dan pencegahan terhadap rayap.
Selain sebagai tempat ibadah dan menuntut ilmu, Surau Latiah dahulunya digunakan sebagai tempat ibadah suluk. Suluk merupakan ajaran tasawuf dalam Islam yangn artinya jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak semua surau bisa menjadikan tempat suluk, karena terbatasnya ulama yanng bisa membimbing orang-orang yang ingin melakukan ibadah suluk.Para peserta suluk di Surau Latiah berasal dari berbagai daerah, seperti: Tanah Datar, Padang Panjang, dan Sijunjung. Namun tradisi bersuluk di surau ini sudah tidak dilakukan lagi, terakhir kali dilakukan pada 2003.
Peninggalan Syekh Sihalahan juga ada di Surau ini, yaitu terdapat manuskrip berupa naskah berbahasa Arab, dalam abjad gundul peninggalan Syekh Sialahan. Ketika ditemukan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Solok pada April 2018, kondisinya sudah bercerai-berai dan dibungkus dengan kertas koran.

Selain itu, seperti kebanyakan masjid dan surau tua lainnya di Minangkabau, surau ini memiliki bedug atau disebut tabuah (bahasa minang). Surau Latiah juga wisata religi dan sejarah di Kota Solok. (Mellya/GMP)

 

Sumber : Wikipedia dan Arsip DPORKP 2016.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru