by

Baraja – Muhammad Yamin Sang Bintang Maha Putra

-NEWS-261 views

Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran pemuda salah satunya adalah Muhammad Yamin. Muhammad Yamin sendiri dikenal oleh masyarakat luas sebagai pencipta lambang Gajah Mada, ia bahkan menulis buku mengenai perjuangan Gajah Mada, dan bukan hanya itu saja, Muhammad Yamin juga dikenal sebagai tokoh pencetus Sumpah Pemuda, serta mengusulkan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan Indonesia.

Muhammad Yamin dilahirkan di Talawi (Sawahlunto) pada tanggal 23 Agustus 1903, tepat pada hari kamis pukul 24.00 Wib. Sawahlunto merupakan salah satu Daerah Tingkat II di Sumatera Barat, yang juga dikenal sebagai kota tambang batubara.

Ayah Muhammad Yamin bernama Usman gelar Bagindo Khatib, yang semasa hidupnya bekerja sebagai mantri kopi. Mantri kopi pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia merupakan pejabat yang cukup terpandang. Sedangkan Ibu Muhammad Yamin bernama Siti Sa’adah berasal dari Kota Padang Panjang. Muhammad Yamin menikah dengan Raden Ajeng Sundari Merto Amodjo pada tahun 1934. Beliau dikaruniai seorang putra laki-laki, bernama Dang Rahadian Sinajangsih Yamin.

Jenjang pendidikan Muhammad Yamin tidak berjalan lurus, bukan karena Muhammad Yamin enggan belajar sehingga tidak dapat naik kelas, tetapi karena keadaan sekolah pada waktu itu belum tersebar seperti zaman sekarang. Muhammad Yamin selalu memilih sekolah dengan pelajaran dan suasana yang benar-benar cocok dan serasi dengan hati nuraninya. Disamping itu, keadaan lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang besar pada pendidikan Muhammad Yamin, karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apa lagi keadaan Indonesia saat itu masih di jajah oleh Pemerintah Hindia Belanda. Muhammad Yamin mula-mula belajar di Sekolah Melayu atau Sekolah Dasar Bumi Putra, kemudian Muhammad Yamin pindah sekolah, ia pindah di Hollandsch Inlandsche School(HIS), dan pada tahun 1918 Muhammad Yamin tamat dari HIS. Setelah tamat dari HIS, Muhammad Yamin memasuki Sekolah Dokter Hewan di Bogor. Ternyata ia tidak tertarik pada pelajaran tentang hewan-hewan dan penyakitnya, tidak lama kemudian Muhammad Yamin pindah ke Sekolah Pertanian yang terdapat di Daerah Bogor. Disini pun Muhammad Yamin tidak bertahan lama. Kemudian Muhammad Yamin pindah ke Surakarta dan memasuki Algemene Middelbare School (AMS) jurusan Oostersch Letterkundige Afdeling, sekolah ini dibuka pada tahun 1926. Di Sekolah AMS afdeling AIini Muhammad Yamin belajar sungguh-sungguh dan menjadi murid yang terkemuka. Muhammad Yamin tertarik pada mata pelajaran sastra, bahasa dan budaya pada umumnya. Pada tahun 1927 Muhammad Yamin menamatkan pelajarannya di AMS.

Sementara itu Muhammad Yamin berangkat ke Jakarta dan masuk Sekolah Tinggi Hukum Rechts Hooge School (RHS) pada tahun 1927. Di Sekolah Tinggi Hukum inilah Muhammad Yamin menamatkan studinya tepat pada waktunya, yaitu selama lima tahun. Pada tahun 1932 ia lulus dan sejak itu ia berhak memakai gelar Meester in de rechten. Sejak itu nama lengkapnya menjadi Mr Muhammad Yamin. Ketika Muhammad Yamin menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta, memang zaman sulit.Suhu politik di tanah air kita juga tinggi. Banyak pemimpin pergerakan kebangsaan yang ditahan pihak pemerintahan Belanda, yaitu Ir Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, Sjahrir dan lain-lainnya. Krisis ekonomi dunia atau melaisse (1929 –1930) juga melanda tanah air kita. Muhammad Yamin juga ikut menderita. Walaupun ia terkenal sebagai mahasiswa yang tidak dapat hidup bermewah-mewah, namun Muhammad Yamin berhasil menjadi mahasiswa yang pandai dan terkemuka.

M. yamin termasuk salah satu pakar hukum dan juga merupakan penyair terkemuka angkatan pujangga baru. Ia banyak menghasilkan karya tulis pada dekade 1920 yang sebagian dari karyanya menggunakan bahasa melayu. Karya-karya tulis Muhammad Yamin diterbitkan dalam jurnal Jong Sumatra. Ia juga merupakan salah satu pelopor puisi modern. Muhamma Yamin banyak menulis buku sejarah dan sastra yang cukup di kenal yaitu  Gajah Mada (1945), Sejarah Peperangan Diponegoro, Tan Malaka(1945) Tanah Air (1922), Indonesia Tumpah Darah (1928), Ken Arok dan Ken Dedes (1934), Revolusi Amerika, (1951)
Karir M. Yamin dalam dunia politik dimulai ketika ia diangkat sebagai ketua Jong Sumatera Bond pada tahun 1926 sampai 1928. Setelah itu pada tahun 1931, ia bergabung ke Partai Indonesia. Tetapi partai tersebut dibubarkan. Karir politiknya berlanjut ketika M. Yamin mendirikan partai Gerakan Rakyat Indonesia bersama Adam Malik, Wilipo, dan Amir Syarifudin.

Sebagai sastrawan, gaya puisi suami dari Siti Sundari ini dikenal dengan gaya berpantun yang banyak menggunakan akhiran kata berirama. Tak hanya itu, ia pun disebut-sebut sebagai orang pertama yang menggunakan bentuk soneta pada tahun 1921 sekaligus pelopor Angkatan Pujangga Baru yang berdiri pada tahun 1933. Dibesarkan dalam dunia pendidikan yang berlatar belakang Belanda, bukan berarti Muhammad Yamin, memihak Belanda yang kala itu menduduki Indonesia. Semangat nasionalismenya tetap berkobar dan dibuktikan dalam bentuk karya sastra dan menghindari kalimat yang kebarat-baratan.

Muhammad Yamin juga merupakan anggota BPUPKI dan anggota panitia Sembilan di mana akhirnya berhasil merumuskan Piagam Jakarta. Piagam Jakarta ini merupakan cikal bakal dan merupakan dasar dari terbentuknya UUD 1945 dan Pancasila. Tercatat Muhammad  Yamin juga pernah diangkat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Setelah Indonesia merdeka, Yamin banyak duduk di jabatan-jabatan penting negara, di antaranya adalah menjadi anggota DPR sejak tahun 1950, Menteri Kehakiman (1951-1952), Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (1953–1955), Menteri Urusan Sosial dan Budaya (1959-1960), Ketua Dewan Perancang Nasional (1962), dan Ketua Dewan Pengawas IKBN Antara(1961–1962).

3

Muhammad Yamin meninggal pada tanggal 17 Oktober 1962. Ia wafat di Jakarta dan dimakamkan di kampung halamannya yaitu Talawi Mudiak Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia meninggal ketika ia menjabat sebagai Menteri Penerangan. Untuk bangsa Indonesia Muhammad Yamin adalah salah seorang yang sangat besar jasanya. Untuk itu dia telah dihadiahkan bintang tertinggi bagi bangsa Indonesia, yaitu “Bintang Maha Putra Republik Indonesia”. Disamping itu dia juga mendapat bintang jasa dari negara Yugoslavia. M. Yamin dianugerahi gelar pahlawanan nasional pada tahun 1973 sesuai dengan SK Presiden RI No. 088/TK/1973. (Wahyu/GMP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru