by

Baraja – Mengenang Fotografer Yang Abadikan Pembacaan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945

-NEWS-302 views

GMP Solok, -  Di Talikuran, Minahasa, Sulawesi Selatan, terdapat patung dua orang laki-laki yang berdiri di atas kamera.Mereka adalah Frans Soemarto Mendur dan Alex Impurung Mendur.

Mendur bersaudara merupakan wartawan yang berjasa dalam mengabadikan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Foto Soekarno-Hatta yang sedang membacakan teks Proklamasi dan foto dinaikkannya bendera merah putih untuk pertama kali adalah salah satu hasil karya kedua bersaudara ini.

Perjalanan bersejarah mereka memang tidak mudah, sebuah perjuangan yang menjadikan nyawa sebagai taruhannya. 16 Agustus 1945 malam, Frans Mendur yang saat itu merupakan wartawan harian Asia Raya, mendapatkan kabar bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilangsungkan esok hari. Frans kemudian berangkat menuju rumah Presiden Soekarno dengan berbekal kamera Leica dan sebuah rol film.

Ia sebetulnya pergi dengan penuh keraguan."Saya sendiri semula tak percaya," tutur Frans, seperti dituliskan Hendri F Isnaeni, dalam buku yang berjudul "17-8-1945: Fakta, Drama, Misteri". Frans mulai meyakinkan diri mengenai kebenaran informasi itu ketika melihat banyak orang yang berkumpul di depan rumah yang menjadi tempat tinggal Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.

Terlihat juga sejumlah tokoh nasional, yang menurut Frans, terlihat berunding dengan Soekarno dan Mohammad Hatta. Menjelang pukul 10.00 WIB, Soekarno-Hatta dan tokoh nasional lainnya keluar dari rumah. Para hadirin diberi aba-aba untuk berdiri. Teriakan “Hidup Indonesia!” dan “Indonesia Merdeka!” bergemuruh menyambut babak baru bagi Tanah Air. Kemudian, berkumandanglah teks proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno. Teriakan "Merdeka!" semakin membahana, bersamaan dengan sorak-sorai hadirin yang menggambarkan semangat pemuda bangsa menyambut kemerdekaan. Suasana emosional tersebut membuat Frans nyaris lupa mengabadikan momen bersejarah bagi Indonesia karena terbawa emosi. Selepas momen bersejarah tersebut, mereka belum dapat menghirup napas lega, sebab tentara Jepang memburu mereka. Hasil foto sang kakak yang merupakan kepala bagian foto kantor berita Domei, Alex Mendur, tidak terselamatkan karena telah dirampas oleh pemerintah Jepang setelah proklamasi.

Berdasarkan pengakuan Frans dalam wawancara dengan wartawan Soebagijo IN pada tahun 1960-an, ia melihat sendiri ketika tustel (perangkat untuk memotret) milik Alex dirampas oleh tentara Jepang. Beruntung, Frans sempat menyembunyikan negatif film hasil jepretannya.

Menurut Frans dalam wawancara yang sama dengan Soebagijo, ia mengubur rol film itu di kebun kantornya.Proses mencetak hasil foto tersebut juga harus dilakukan secara diam-diam.Mereka perlu menyelinap saat malam hari, memanjat pohon, dan melompati pagar di samping kantor Domei demi mencetak foto di sebuah lab film.Kalau sampai tertangkap, hukuman yang menunggu mereka adalah dijebloskan ke penjara atau hukuman mati

3

Kegigihan serta nasionalisme Frans dan Alex yang tinggi membuat kita dapat turut menyaksikan momentum ketika Soekarno dan Hatta, atas nama bangsa Indonesia, menyatakan kemerdekaan. Frans berhasil menjepret tiga foto yaitu, saat Soekarno membacakan teks proklamasi, pengibaran bendera merah putih oleh anggota Pembela Tanah Air (PETA) Latief Hendradiningrat, dan suasana upacara pengibaran bendera Merah Putih. Dari jasa-jasa Mendur Bersaudara inilah sampai saat ini kita bisa merasakan dan melihat bagimana perjuangan para pejuang pendiri bangsa dalam usaha untuk memerdekaan Indonesia.

Mendur Bersaudara, Justus Umbas, Frans "Nyong" Umbas, Alex Mamusung dan Oscar Ganda, kemudian mendirikan IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) pada 2 Oktober 1946. (Wahyu/GMP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru