by

Balerong Sari Nagari Tabek

Balairung Sari Tabek merupakan salah satu balairung yang terdapat di Sumatra Barat. Balairung Sari Tabek berlokasi di Jorong Tabek, Nagari Tabek, Kecamatan ParianganKabupaten Tanah Datar. Bangunan ini berasal dari periode Islam.

Bangunan Balerong Sari Tabek merupakan tempat musyawarah adat sebagai perkembangan dari medan nan bapaneh kira – kira 450 tahun yang lalu. Menurut informasi sejarah bangunan balerong sari tersebut di rancang oleh Tantejo Gurhano yaitu seorang tokoh pada masa kerajaan Pasumayan Koto Batu yang merupakan kerajaan pertama di Minangkabau yang berpusat di Nagari Pariangan lereng Gunung Marapi. Waktu itu kerajaan dipe­rin­tah oleh Sri Maharaja Diraja yaitu  ayah dari Datuak Ketumang­gungan pendiri lareh Koto Piliang. Semasa hidupnya Tantejo Gura­hano dikenal sebagai arsitek ulung, dialah yang membuat rumah gadang pertama kali. Balairung sari beratap ijuk itu merupakan lambang demokrasi di Minangkabau, sebagai  tempat musyawarah bagi petinggi nagari untuk mencari kata sepakat guna menyelesaikan berbagai persoalan.

balerong

Tantejo Gurhano membangun Balairung Sari berdasarkan sistem demokrasi lareh Bodi Caniago, dimana lantainya dibuat datar yang melambangkan sifat “ legaliter ” yakni  kesamaan hak dalam menyatakan pendapat, seperti diungkap pepatah “duduak samo randah tagak samo tinggi”. Namun masyarakat nagari Tabek tidak menganut sistem adat lareh bodi caniago itu.berdasarkan cerita turun temurun Tantejo Gurhano me­masang atap Balirung Sari sambil duduk di halamannya, begitu tinggi besarnya  manusia yang satu ini. 

Bangunan yang terbuat dari kayu ini masih berdiri kokoh sampai saat sekarang dengan atap ijuk dan lantai panggung. Bangunan ditopang dengan tiang kayu sebanyak 18 buah setinggi 3 meter,sedangkan tinggi panggung (Lantai) adalah 1 meter. Bangunan ini memanjang dan tanpa dinding berukuran 48,24 meter dan lebar 3,40 meter.keunikan bangunan ini yaitu terletak pada lantainya.pada ruang (bagian antara satu tiang ketiang berikutnya) ke 9 dari kanan (utara) lantainya terputus dan tidak menyambung dengan lantai ruang berikutnya.

Dengan demikian seolah – olah lantai bangunan terbagi dalam dua sisi, yaitu sisi utara dan sisi selatan.atapnya dari bahan ijuk dengan enam gonjong. Bangunan ini sampai sekarang masih dipakai sebagai tempat musyawarah adat. Salah satu tonggak bangunan ini menurut penuturan masyarakat Tabek berasal dari kayu jilatang yang sampai saat ini di ambil oleh masyarakat untuk dijadikan semacam kekuatan supranatural. (Wahyu/GMP)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru